Wednesday, 16 March 2016

Dilukai untuk Mengobati

Women in Sharing
Kesempatan berharga terjadi. Sore itu, saya mendengarkan curahan hati seorang wanita yang tersakiti oleh pria. Yah, tepatnya seorang istri yang mengalami siksaan fisik dan batin dari sang suami. Sejujurnya, saya sering mendengarkan curahan hati para istri yang hatinya dilukai oleh suami. Dalam kehidupan saya, interpersonal komunikasi dengan mereka yang sudah mengarungi berbagai seni kehidupan hampir terjadi setiap hari.  Beragam kisah mereka tersimpan di memori hati ini.
Namun, kisah yang satu ini sungguh menyentuh hati. Saya belajar, mencoba untuk mengerti arti penting dilukai. Mengerti bahwa dilukai adalah suatu anugerah yang patut disyukuri. Hal yang luar biasa saya dapatkan dari wanita itu. Yah, dia memang dilukai namun ia memilih untuk tidak terlukai dengan duri yang coba ditancapkan dunia melalui kehidupan rumah tangganya. Saya sangat setuju dengan sikap wanita itu. Saya percaya tidak ada yang bisa melukai hati kita jika kita tidak mengijinkannya. Yah, secara kasat mata Anda mungkin dilukai namun jangan biarkan hati Anda terlukai. Yah, menjaga hati.
“Tapi... saya juga manusia biasa.”
“Bagaimana bisa saya tidak tersakiti dengan perbuatan dia yang sangat keji ?”
“Saya manusia biasa.”
“Saya tidak sempurna.”
“Wajar, jika saya mengalami luka di hati!”
Ingatlah bahwa ketidaksempurnaan bukanlah alasan untuk kita melakukan kesalahan. Lagipula, Pencipta kita kan sempurna sepatutnya kita juga sempurnalah.
Baiklah, saya tidak berkata Anda tidak bisa tersakiti. Hanya saja, Anda punya pilihan untuk tidak tersakiti. Anda punya pilihan untuk menjaga hati melalui koneksi yang terus - menerus dengan Maha Suci. Yah, dengan begitu setidaknya Anda bisa mengurangi konsumsi sakit hati. Bahkan, jika Anda mempraktekkannya setiap hari niscaya Anda akan kebal dengan yang namanya dilukai. Ketika Anda dilukai, langsung saja ingat Maha Suci. Curahkan semua isi hati. Niscaya, ada ketenangan hati untuk bijak menyikapi rentetan goncangan kehidupan yang terjadi. Sikap inilah yang saya temui pada wanita itu. Bersyukur Tuhan sangat baik, saya diberikan kesempatan untuk belajar dari pengalaman wanita itu.
Wanita itu dipaksa bercerai oleh suaminya di saat pernikahan mereka baru menginjak usia 3 tahun. Yah, tepatnya ketika anaknya baru berusia 2 tahun. Suaminya ingin menikah dengan wanita lain. Sidang gugatan perceraian diputuskan sepihak. Wanita itu tak mau untuk bercerai. Yah, karena ia mengerti kebenaran bahwa apapun alasannya cerai itu salah di mataNYA. Selama pernikahan, siksaan fisik dan batin yang sangat keji terjadi. Terlalu sadis cara suaminya memperlakukan wanita itu. Yah, terlalu sadis hingga tak sanggup saya tuliskan disini. Eksploitasi tubuh seorang wanita terjadi. Hujan makian, suara petir, tangan yang siap untuk mencabik - cabik tubuh wanita mengancam setiap hari. Bahkan, eksploitasi seksual pun terjadi.
Selama mendengarkan curahan hati wanita itu, saya hanya bisa menangis seraya berdoa. Namun, saya sedikit bingung untuk mengerti mengapa wanita yang taat akan Tuhan bisa menikah dengan pria seperti itu.
“Apa yang salah ?”
Saya tangkap sebuah kebenaran. Ternyata, wanita itu tidak mendengarkan instruksi Yes dari sang komandan yaitu Tuhan terkait pernikahannya dengan pria tersebut. Yah, tidak ada instruksi untuk menikah dengan pria itu namun hanya karena kasian wanita itu memilih untuk menikah dengan pria tersebut. Yah, lagipula pria itu terlihat sudah pulih secara rohani. Kasihan sekali, jika ditolak. Apalagi pihak keluarga mendesak. Pernikahan pun terjadi. Yah, wanita itu berpikir bahwa ia sanggup untuk menarik sang suami untuk semakin dekat dengan Maha Suci. Faktanya, tak semudah itu. Suaminya belum pulih dan dewasa rohani. Jika orang yang dewasa rohani saja bisa jatuh, apa kabarnya dengan calon suaminya yang belum pulih.
Yah, rasa iba membuat wanita itu lupa bahwa suami adalah leader bagi istrinya. Seorang leader, harus memiliki kedewasaan rohani di atas yang dipimpinya. Sayang sekali. Namun, wanita itu tidak mau terus - menerus menyesali diri. Ia belajar mengerti bahwa ada rencanaNya yang luar biasa. Pengalamannya ini bisa menjadi pelajaran kehidupan yang sangat berharga bagi dirinya dan orang lain seperti saya. Yah, saya lagi - lagi belajar. 
Saya belajar untuk menjadi wanita yang tangguh menghadapi segala sesuatu dari pengalaman hidupnya. Saya belajar bahwa kita dilukai untuk mengobati.  Terkadang kita dibiarkan untuk dilukai agar hidup kita menjadi saksi betapa dashyatNya Tuhan kepada sesama. Satu hal yang wanita itu syukuri, beruntunglah hak asuh atas anaknya jatuh padanya. Wanita itu pun fokus untuk membesarkan anaknya seorang diri tanpa suami. Ia mengerjakan apapun yang bisa ia lakukan sesuai perkenanan Tuhan untuk menafkahi anaknya. Nafkah materi dan cinta sejati ia penuhi bagi anaknya. Ia mendidik anaknya dalam kebenaran firman Tuhan. Anak dari wanita itu kini sudah besar. Dasyatnya, anak itu tidak mengalami luka hati. Ia mengerti tindakan ayahnya salah.
“Mengapa anak itu bisa tidak mengalami luka di hati ?”
Pertama, tentu karena  kuasa Tuhan. Kedua, teladan sang ibu yang selalu menjaga hati. Ketiga, pengajaran sang ibu. Yah, sebelum menceritakan kisah kepergian suaminya, wanita itu terlebih dahulu mengajarkan arti kasih dan pengampunan kepada anaknya. Ketika kisah dibuka, anak itu pun siap untuk mengampuni bahkan mengasihi ayahnya tanpa harus pelepasan melalui konselor ataupun pendeta. Yah, karena ibunya cukup bijaksana, dewasa secara rohani dan menjadi suri tauladan menjaga hati. Ia tak membiarkan anaknya mengalami fatherless. Ia mengenalkan Tuhan sebagai bapa yang baik untuk anaknya.  Wanita itu menjadi suri tauladan dalam melepaskan luka di hati. Suri tauladan dalam pengobatan luka di hati melalui koneksi dengan Maha Suci. Bahkan, menjadi saksi Maha Suci untuk mengobati hati mereka yang dilukai. Dashyat. Belajar jadi wanita hebat.  Pelajaran kehidupan ini tak berhenti disini. Saya berharap, saya dan Anda mampu mengimplementasikan kebijaksanaan hati "dilukai untuk mengobati" dalam kehidupan sehari - hari. Jika wanita itu bisa, maka saya dan Anda juga pasti bisa.

God leads and bless us! 

No comments:

Post a Comment

Thanks for reading. Be Virtuous