“Kakak,
kenapa kak?”
“Jangan
sedih, semangat kaka.”
Yah,
begitulah kata – kata gue ke sepupu gue. Seperti biasa dengan wajah gembira,
gue berusaha menghibur dia. Sekalian mincing dia cerita masalahnya, meski
sebenarnya gue udah tau hehehehe. Cuman kan enakan denger cerita dari orangnya
langsung yah guys. Emang gue seneng dengerin curahan hati orang juga sih
sekalian berusaha menjadi cinta bagi sesama.
“Dia
bilang dia gak pergi.”
“Dia
bilang, minggu bakal pulang.”
“Dia
bilang….”
“Dia bilang ini dan itu….”
“Dia
bilang dia gak akan naik gunung.”
“Katanya
reunian doang.”
Bla…bla…bla
Yaps,
sepupu gue terus aja cerita dan gue berusaha jadi pendengar yang excellent.
Guys,
ini masalah hobi, prioritas dan waktu. Yapz, dan ujung – ujungnya kita bermain
dalam kesibukan. Bagus sih kalau sibuk, cuman kalau gak bisa me-manage kesibukan atau aktivitas dengan
baik, bisa jadi boomerang. Bahkan, bisa batal nikah, hehehe.
Sebagai
wanita, gue turut sepenanggungan dengan apa yang dirasakan sepupu gue. Yah,
disaat kekasih atau calon suami kita lebih memilih bersenang – senang dengan
kawan atau komunitasnya dibandingkan meluangkan waktu bersama kita.
“Seminggu
bersama kawan bisa. Satu jam saja bersama kekasih hati, kok sulit sekali?”
Yah,
yah, yah. Gue paham. Menurut gue, hal ini bukan dialami oleh wanita aja. Yah,
para pria pun mungkin turut merasakannya tatkala wanitanya memilih hal lain
dibandingkan dengan dirinya. Kalau milih prioritas yang berurusan dengan
rohani, orangtua dan keluarga sih no problem yah guys. Cuman ketika memilih
dengan teman – teman, hmm gimana yah.
Jadi
gini sih guys, kalau menurut pengamatan gue setiap wanita maupun pria yang
belum menikah pasti punya kebiasaan atau hobi tertentu. Ada pria yang senangnya
naik gunung, dengerin musik terus, nongkrong, ngopi, bola dsb. Kemudian, ada
wanita yang senengnya belanja terus, kongkow dengan sisterhood, nyalon, travelling, dsb.
Perkaranya, ketika wanitamua atau priamu tak setuju dengan hobimu bisa bahaya
banget guys. Sebenarnya, ada satu cara jitu untuk menyelesaikan yaitu
penerimaan. Artinya, ketika lo menjalin hubungan dengan seseorang lo juga harus
siap menjadi bagian dari hobi orang tersebut. Selain itu, lo juga harus masuk
dalam ruang komunitas atau pertemanannya. Yah, intinya lo jadi bagian dari
lingkungannya juga mau gak mau. Kalau lo gak mau, ada pilihan kedua. Yaitu
meninggalkan pasangan atau kesibukan hobi/komunitas lo. Prioritas guys.
Di saat kita menjalin hubungan yang serius dengan seseorang (menuju pernikahan), menjadi penting bagi kita untuk memilah dan memilih prioritas kegiatan. Yah, karena mau gak mau, ketika lo menjalin hubungan dengan seseorang ada waktu, materi, tenaga dsb yang harus lo korbankan. Kalau gak ada pengorbanan mah, bohong kalau lo sayang sama orang itu. So, kita harus bijak menentukan langkah dan pergerakan.
Oh
yah guys, berdasarkan pengamatan gue memang rada susah untuk menghilangkan
kebiasan ini dan itu yang lo lakuin di saat single trus mau lo hentikan di saat menjadi kekasih atau calon
istri/suami orang lain. Bahkan,
ada rumah tangga yang retak cuman karena masalah sepele seperti itu. Yah,
istrinya gak kuat karena suaminya kerjanya main game terus, nongkrong terus. Ada juga suami yang melambaikan
tangan karena istrinya shoping
terus, nyalon terus, dsb. Dari
pengalaman ini, gue belajar bahwa penting banget loh untuk memperbaiki diri
kita sebelum mengikatkan hubungan atau pendekatan menuju pernikahan suci.
“Gue
kan cuman manusia biasa.”
“Trus, gue harus nunggu
berubah dulu gitu. Jadi malaikat, jadi orang sempurna baru nyari jodoh?”
Gak
gitu juga sih guys. Emang lo manusia biasa, lo manusia istimewa lagi. Pencipta
kita aja keren banget, kece guys. Yah, dialah Tuhan yang Maha Esa. Tenang,
maksud gue lo gak harus jadi pribadi perfect dulu kok. Gue paham banget manusia
gak ada yang sempurna. Tapi, ketidaksempurnaan tak menjadi alasan kita
melakukan dosa yah. Maksud gue adalah…
Disaat
lo emang udah siap berkomitmen dan tidak main – main, sah banget kok kalau lo
mau menjalin hubungan dengan seseorang. Saran usia dari gue sih, mulai usia 21
tahun untuk wanita dan 25 tahun untuk pria. Sesuai anjuran untuk pernikahan
yang digalakkan para pejuang pemberantasan pernikahan dini, hehehe. Tapi
terserah lo sih, tergantung kesiapan dan kedewasaan individu. Dewasa kan gak
bisa diukur dari umur atau fisik aja heheh.
Jadi,
intinya menurut gue kita harus benar – benar dipulihkan tatkala menuju pernikahan
suci. Yah, dipulihkan disini based
on spiritual yah guys. Kalau
lagi masa – masa pendekatan sih, masih bisa ditolerir dan
diupayakan untuk berubah. Cuman kalau udah mau memutuskan untuk menikah,
menurut gue wajib banget untuk benar – benar sudah berubah. Meski demikian,
bila ada diantara kamu yang memang terpanggil untuk menikah dengannya, silakan
saja. Keputusan di tanganmu guys, dengan ijin Tuhan tentunya. Peka aja denger
suara Tuhan yah. Oh yah satu lagi nih guys, selama menjalin pendekatan dengan
calon suami/istri lo harus buka telinga dan buka mata lebar – lebar.
Tapi,
kalau lo udah menikah dengan dia lo harus tutup telinga dan tutup mata. Jangan
sampai salah pilih yah guys, gak mau kan cintamu dikorupsi. Ehehe. Jadi,
nyambung ke korupsi yah. Sorry guys, kadang gue random. Tulisan ini gue buat bukan
sekadar iseng atau hobi. Lebih dari itu. Ini adalah pelajaran kehidupan buat
gue dan gue berharap bisa bermanfaat untuk sesama. Mohon maaf bila ada salah –
salah kata yah guys. Yuk, menjadi pribadi yang virtuous. Jadilah cinta bagi sesama. Ingat,
jaga hati juga yah guys.
Salam Inspirasi Maha Suci
Ganbate all
Tulisannya bagus bngaat.. berbobot. Thanks sister :) TYM
ReplyDeleteHehe. Thx yah. Sejujurnya, aku masih awam dlm menulis. Perlu banyak belajar.
ReplyDelete