Sunday, 6 September 2015

KAMU SIBUK SEKALI YAH


Guys, malam ini gue dapet pelajaran kehidupan berharga lagi. Wow, Tuhan baik banget sama gue karena gue diajarkan ini dan itu untuk mengarungi kehidupan.
Kakak, kenapa kak?”
“Jangan sedih, semangat kaka.”
Yah, begitulah kata – kata gue ke sepupu gue. Seperti biasa dengan wajah gembira, gue berusaha menghibur dia. Sekalian mincing dia cerita masalahnya, meski sebenarnya gue udah tau hehehehe. Cuman kan enakan denger cerita dari orangnya langsung yah guys. Emang gue seneng dengerin curahan hati orang juga sih sekalian berusaha menjadi cinta bagi sesama.
Dia bilang dia gak pergi.”
“Dia bilang, minggu bakal pulang.”
“Dia bilang….”
 “Dia bilang ini dan itu….”
“Dia bilang dia gak akan naik gunung.”
“Katanya reunian doang.”
Bla…bla…bla
Yaps, sepupu gue terus aja cerita dan gue berusaha jadi pendengar yang excellent.
Guys, ini masalah hobi, prioritas dan waktu. Yapz, dan ujung – ujungnya kita bermain dalam kesibukan. Bagus sih kalau sibuk, cuman kalau gak bisa me-manage kesibukan atau aktivitas dengan baik, bisa jadi boomerang. Bahkan, bisa batal nikah, hehehe.
Sebagai wanita, gue turut sepenanggungan dengan apa yang dirasakan sepupu gue. Yah, disaat kekasih atau calon suami kita lebih memilih bersenang – senang dengan kawan atau komunitasnya dibandingkan meluangkan waktu bersama kita.
Seminggu bersama kawan bisa. Satu jam saja bersama kekasih hati, kok sulit sekali?”
Yah, yah, yah. Gue paham. Menurut gue, hal ini bukan dialami oleh wanita aja. Yah, para pria pun mungkin turut merasakannya tatkala wanitanya memilih hal lain dibandingkan dengan dirinya. Kalau milih prioritas yang berurusan dengan rohani, orangtua dan keluarga sih no problem yah guys. Cuman ketika memilih dengan teman – teman, hmm gimana yah.
Jadi gini sih guys, kalau menurut pengamatan gue setiap wanita maupun pria yang belum menikah pasti punya kebiasaan atau hobi tertentu. Ada pria yang senangnya naik gunung, dengerin musik terus, nongkrong, ngopi, bola dsb. Kemudian, ada wanita yang senengnya belanja terus, kongkow dengan sisterhood, nyalon, travelling, dsb. Perkaranya, ketika wanitamua atau priamu tak setuju dengan hobimu bisa bahaya banget guys. Sebenarnya, ada satu cara jitu untuk menyelesaikan yaitu penerimaan. Artinya, ketika lo menjalin hubungan dengan seseorang lo juga harus siap menjadi bagian dari hobi orang tersebut. Selain itu, lo juga harus masuk dalam ruang komunitas atau pertemanannya. Yah, intinya lo jadi bagian dari lingkungannya juga mau gak mau. Kalau lo gak mau, ada pilihan kedua. Yaitu meninggalkan pasangan atau kesibukan hobi/komunitas lo. Prioritas guys.

Di saat kita menjalin hubungan yang serius dengan seseorang (menuju pernikahan), menjadi penting bagi kita untuk memilah dan memilih prioritas kegiatan. Yah, karena mau gak mau, ketika lo menjalin hubungan dengan seseorang ada waktu, materi, tenaga dsb yang harus lo korbankan. Kalau gak ada pengorbanan mah, bohong kalau lo sayang sama orang itu. So, kita harus bijak menentukan langkah dan pergerakan.
Oh yah guys, berdasarkan pengamatan gue memang rada susah untuk menghilangkan kebiasan ini dan itu yang lo lakuin di saat single trus mau lo hentikan di saat menjadi kekasih atau calon istri/suami orang lain. Bahkan, ada rumah tangga yang retak cuman karena masalah sepele seperti itu. Yah, istrinya gak kuat karena suaminya kerjanya main game terus, nongkrong terus. Ada juga suami yang melambaikan tangan karena istrinya shoping terus, nyalon terus, dsb. Dari pengalaman ini, gue belajar bahwa penting banget loh untuk memperbaiki diri kita sebelum mengikatkan hubungan atau pendekatan menuju pernikahan suci.
“Apa?”
“Gue kan cuman manusia biasa.”
Trus, gue harus nunggu berubah dulu gitu. Jadi malaikat, jadi orang sempurna baru nyari jodoh?”
Gak gitu juga sih guys. Emang lo manusia biasa, lo manusia istimewa lagi. Pencipta kita aja keren banget, kece guys. Yah, dialah Tuhan yang Maha Esa. Tenang, maksud gue lo gak harus jadi pribadi perfect dulu kok. Gue paham banget manusia gak ada yang sempurna. Tapi, ketidaksempurnaan tak menjadi alasan kita melakukan dosa yah. Maksud gue adalah…
Disaat lo emang udah siap berkomitmen dan tidak main – main, sah banget kok kalau lo mau menjalin hubungan dengan seseorang. Saran usia dari gue sih, mulai usia 21 tahun untuk wanita dan 25 tahun untuk pria. Sesuai anjuran untuk pernikahan yang digalakkan para pejuang pemberantasan pernikahan dini, hehehe. Tapi terserah lo sih, tergantung kesiapan dan kedewasaan individu. Dewasa kan gak bisa diukur dari umur atau fisik aja heheh.
Jadi, intinya menurut gue kita harus benar – benar dipulihkan tatkala menuju pernikahan suci. Yah, dipulihkan disini based on spiritual yah guys. Kalau lagi masa – masa pendekatan sih, masih bisa ditolerir dan diupayakan untuk berubah. Cuman kalau udah mau memutuskan untuk menikah, menurut gue wajib banget untuk benar – benar sudah berubah. Meski demikian, bila ada diantara kamu yang memang terpanggil untuk menikah dengannya, silakan saja. Keputusan di tanganmu guys, dengan ijin Tuhan tentunya. Peka aja denger suara Tuhan yah. Oh yah satu lagi nih guys, selama menjalin pendekatan dengan calon suami/istri lo harus buka telinga dan buka mata lebar – lebar.
Tapi, kalau lo udah menikah dengan dia lo harus tutup telinga dan tutup mata. Jangan sampai salah pilih yah guys, gak mau kan cintamu dikorupsi. Ehehe. Jadi, nyambung ke korupsi yah. Sorry guys, kadang gue random. Tulisan ini gue buat bukan sekadar iseng atau hobi. Lebih dari itu. Ini adalah pelajaran kehidupan buat gue dan gue berharap bisa bermanfaat untuk sesama. Mohon maaf bila ada salah – salah kata yah guys. Yuk, menjadi pribadi yang virtuous. Jadilah cinta bagi sesama. Ingat, jaga hati juga yah guys.
            Salam Inspirasi Maha Suci
            Ganbate all 
 


2 comments:

  1. Tulisannya bagus bngaat.. berbobot. Thanks sister :) TYM

    ReplyDelete
  2. Hehe. Thx yah. Sejujurnya, aku masih awam dlm menulis. Perlu banyak belajar.

    ReplyDelete

Thanks for reading. Be Virtuous