![]() |
| Women in Sharing |
Namun, kisah yang satu ini sungguh menyentuh hati. Saya belajar,
mencoba untuk mengerti arti penting dilukai. Mengerti bahwa dilukai adalah
suatu anugerah yang patut disyukuri. Hal yang luar biasa saya dapatkan dari
wanita itu. Yah, dia memang dilukai namun ia memilih untuk tidak terlukai
dengan duri yang coba ditancapkan dunia melalui kehidupan rumah tangganya. Saya
sangat setuju dengan sikap wanita itu. Saya percaya tidak ada yang bisa melukai
hati kita jika kita tidak mengijinkannya. Yah, secara kasat mata Anda mungkin
dilukai namun jangan biarkan hati Anda terlukai. Yah, menjaga hati.
“Tapi... saya juga manusia biasa.”
“Bagaimana bisa saya tidak tersakiti dengan perbuatan dia yang
sangat keji ?”
“Saya manusia biasa.”
“Saya tidak sempurna.”
“Wajar, jika saya mengalami luka di hati!”
Ingatlah bahwa ketidaksempurnaan bukanlah alasan untuk kita
melakukan kesalahan. Lagipula, Pencipta kita kan sempurna sepatutnya kita juga
sempurnalah.
Baiklah, saya tidak berkata Anda tidak bisa tersakiti. Hanya saja,
Anda punya pilihan untuk tidak tersakiti. Anda punya pilihan untuk menjaga hati
melalui koneksi yang terus - menerus dengan Maha Suci. Yah, dengan begitu
setidaknya Anda bisa mengurangi konsumsi sakit hati. Bahkan, jika Anda
mempraktekkannya setiap hari niscaya Anda akan kebal dengan yang namanya
dilukai. Ketika Anda dilukai, langsung saja ingat Maha Suci. Curahkan semua isi
hati. Niscaya, ada ketenangan hati untuk bijak menyikapi rentetan goncangan
kehidupan yang terjadi. Sikap inilah yang saya temui pada wanita itu. Bersyukur
Tuhan sangat baik, saya diberikan kesempatan untuk belajar dari pengalaman
wanita itu.
Wanita itu dipaksa bercerai oleh suaminya di saat pernikahan
mereka baru menginjak usia 3 tahun. Yah, tepatnya ketika anaknya baru berusia 2
tahun. Suaminya ingin menikah dengan wanita lain. Sidang gugatan perceraian
diputuskan sepihak. Wanita itu tak mau untuk bercerai. Yah, karena ia mengerti
kebenaran bahwa apapun alasannya cerai itu salah di mataNYA. Selama pernikahan,
siksaan fisik dan batin yang sangat keji terjadi. Terlalu sadis cara suaminya
memperlakukan wanita itu. Yah, terlalu sadis hingga tak sanggup saya tuliskan
disini. Eksploitasi tubuh seorang wanita terjadi. Hujan makian, suara petir,
tangan yang siap untuk mencabik - cabik tubuh wanita mengancam setiap hari.
Bahkan, eksploitasi seksual pun terjadi.
Selama mendengarkan curahan hati wanita itu, saya hanya bisa
menangis seraya berdoa. Namun, saya sedikit bingung untuk mengerti mengapa
wanita yang taat akan Tuhan bisa menikah dengan pria seperti itu.
“Apa yang salah ?”
Saya tangkap sebuah kebenaran. Ternyata, wanita itu tidak
mendengarkan instruksi Yes dari sang komandan yaitu Tuhan terkait pernikahannya
dengan pria tersebut. Yah, tidak ada instruksi untuk menikah dengan pria itu
namun hanya karena kasian wanita itu memilih untuk menikah dengan pria
tersebut. Yah, lagipula pria itu terlihat sudah pulih secara rohani. Kasihan
sekali, jika ditolak. Apalagi pihak keluarga mendesak. Pernikahan pun terjadi.
Yah, wanita itu berpikir bahwa ia sanggup untuk menarik sang suami untuk
semakin dekat dengan Maha Suci. Faktanya, tak semudah itu. Suaminya belum pulih
dan dewasa rohani. Jika orang yang dewasa rohani saja bisa jatuh, apa kabarnya
dengan calon suaminya yang belum pulih.
Yah, rasa iba membuat wanita itu lupa bahwa suami adalah leader bagi istrinya. Seorang leader, harus memiliki kedewasaan rohani
di atas yang dipimpinya. Sayang sekali. Namun, wanita itu tidak mau terus -
menerus menyesali diri. Ia belajar mengerti bahwa ada rencanaNya yang luar
biasa. Pengalamannya ini bisa menjadi pelajaran kehidupan yang sangat berharga
bagi dirinya dan orang lain seperti saya. Yah, saya lagi - lagi belajar.
Saya belajar untuk menjadi wanita yang tangguh menghadapi segala
sesuatu dari pengalaman hidupnya. Saya belajar bahwa kita dilukai untuk
mengobati. Terkadang kita dibiarkan
untuk dilukai agar hidup kita menjadi saksi betapa dashyatNya Tuhan kepada sesama.
Satu hal yang wanita itu syukuri, beruntunglah hak asuh atas anaknya jatuh
padanya. Wanita itu pun fokus untuk membesarkan anaknya seorang diri tanpa
suami. Ia mengerjakan apapun yang bisa ia lakukan sesuai perkenanan Tuhan untuk
menafkahi anaknya. Nafkah materi dan cinta sejati ia penuhi bagi anaknya. Ia
mendidik anaknya dalam kebenaran firman Tuhan. Anak dari wanita itu kini sudah
besar. Dasyatnya, anak itu tidak mengalami luka hati. Ia mengerti tindakan
ayahnya salah.
“Mengapa anak itu bisa tidak mengalami luka di hati ?”
Pertama, tentu karena kuasa
Tuhan. Kedua, teladan sang ibu yang selalu menjaga hati. Ketiga, pengajaran
sang ibu. Yah, sebelum menceritakan kisah kepergian suaminya, wanita itu
terlebih dahulu mengajarkan arti kasih dan pengampunan kepada anaknya. Ketika
kisah dibuka, anak itu pun siap untuk mengampuni bahkan mengasihi ayahnya tanpa
harus pelepasan melalui konselor ataupun pendeta. Yah, karena ibunya cukup
bijaksana, dewasa secara rohani dan menjadi suri tauladan menjaga hati. Ia tak
membiarkan anaknya mengalami fatherless. Ia mengenalkan Tuhan sebagai bapa yang
baik untuk anaknya. Wanita itu menjadi
suri tauladan dalam melepaskan luka di hati. Suri tauladan dalam pengobatan
luka di hati melalui koneksi dengan Maha Suci. Bahkan, menjadi saksi Maha Suci
untuk mengobati hati mereka yang dilukai. Dashyat. Belajar jadi wanita hebat. Pelajaran kehidupan ini tak berhenti disini.
Saya berharap, saya dan Anda mampu mengimplementasikan kebijaksanaan hati
"dilukai untuk mengobati" dalam kehidupan sehari - hari. Jika wanita
itu bisa, maka saya dan Anda juga pasti bisa.
God leads
and bless us!
