Tuesday, 28 April 2015

KORELASI HATI, KEBENARAN, DAN CINTA

Salam damai, guys

"Berapa banyak diantara kalian yang hari - hari ini berdoa untuk mendapatkan pasangan hidup?"

Tak ada salahnya sih, kamu berdoa untuk pasangan hidup. Memohon Tuhan mendekatkanmu dengan jodohmu. Itu hakmu.
Namun, kali ini aku sekadar berbagai pendapat saja tentang korelasi hati, kebenaran, dan cinta.
Menurut pendapat aku, kita tak perlu memaksa Tuhan untuk segera mempertemukan kita dengan pasangan hidup kita. Yah, minta saja kebenaran dari-Nya. Maksudnya, gini...
Ketika kamu berdoa untuk kebenaran dalam hidup tentang segala hal termasuk jodoh, maka kebenaran itu sendiri yang bersumber dari Tuhan akan menemukan jalannya untuk membawamu pada jodohmu. Percayalah, waktu Tuhan yang terbaik.

Oh yah, tak bermaksud menggurui.
Ada baiknya kita koreksi hati dan menilai kembali rencana hidup.
Coba hitung - hitungan deh. Kalau misalnya kamu jomblo, apakah hidupmu akan hancur? Atau bila kamu sudah menjalin hubungan dengan kekasih, apakah hidupmu pasti bahagia?.
Tidak juga, kan.
Maka, dari itu baiklah kita mengintropeksi diri. Milikilah hati yang benar. Ketika kamu sudah memiliki hati yang benar, secara otomatis kamu pasti memiliki komitmen untuk menjalin hubungan dengan pasangan hidupmu. Ketika hal itu terjadi, maka Tuhan akan mempertemukan kamu dengan pasangan hidupmu. Rahasia kebenaran-Nya akan terungkap.

Karena, percuma juga kalau kita menjalin hubungan tanpa visi dan misi yang jelas.
Sekadar status. Wasting time banget guys...
Mending cari kegiatan positif lainnya.


So, keep fight and be joyful guys!

BERHENTI SONTEK - MENSONTEK, WHY NOT?

Tulisan semasa SMK, semoga bermanfaat untuk generasi Indonesia yang lebih bermoral. 

Aku dan Dunia Contek - Mencontek 

“Setitik langkah untuk berubah dan berbuah”

Geram, aku mendengar wacana perubahan dari berbagai pihak dan kalangan. Katanya, mau membenahi ini dan itu. Tetapi, semua sekadar wacana tanpa ada aksi nyata. Dunia pendidikan yang seharusnya membentuk karakter bangsa telah kehilangan arah. Karena faktanya, diri ini melihat dan merasakan esensi pendidikan belum sesuai tujuan pendidikan nasional.
Sekolah sebagai institusi pendidikan lebih fokus pada kecerdasan otak (IQ) tanpa adanya keseimbangan dengan kecerdasan emosional (EQ). Parahnya lagi, sekolah justru memberi pengondisian untuk berpaling dari nilai - nilai budaya dan karakter bangsa. Kecerdasan otak berbanding terbalik dengan kecerdasan moral dan akhlak. Contoh sederhana yaitu celah - celah korupsi di sekolah. Hal itu terlukiskan lewat tingkah laku para pendidik maupun pelajar atau mahasiswa. Disini saya tak ingin menghakimi siapapun. Nilai - nilai budaya karakter bangsa seperti jujur dan religius terpampang jelas di setiap kelas. Namun, tak ada perubahan. Buktinya masih banyak saja siswa – siswi yang mencontek. Pengalaman membuktikan.  
Motivasi untuk menjadi teladan, memberiku keberanian untuk menuliskan segenggam asa yang terpendam. Awalnya tak terpikir untuk mengambil komitmen "berhenti mencontek" . Sebuah pelatihan kepemimpinan mengubah paradigma di hidupku. Gelar "duta muda anti korupsi" dari sebuah lembaga independen mengarahkanku untuk peduli terhadap persoalan krusial tersebut. Aku percaya, sekecil apapun aksi yang dilakukan pasti berarti. Tak ada yang sia – sia dalam setiap perjuangan. Aku memang belum bisa untuk menyadarkan para “rayap negara”. Tetapi, minimal aku harus menyadarkan diri ini dahulu dan orang – orang di sekitarku.  
Besar kerinduanku untuk berhenti mencontek dan tidak memberi contekan. Tetapi, hingga detik ini belum bisa untuk tidak memberi contekan. Sungguh aku malu terhadap gelar yang telah aku dapatkan. Aku ingin menjadi teladan. Bagaimana caranya. Aku harus tegas. Bagaimana mau menjadi teladan. Jika diri ini masih bersemayam dalam "dunia contek - mencontek". Mungkin, sebagian diantara kita mengangap ini biasa. Tetapi, bagiku ini adalah perkara luarbiasa. Karena, para pelaku tidak merasa berdosa. Seolah - olah, mencontek itu adalah hal yang lumrah. Sah - sah saja. Secara tidak langsung, mencontek dilegalkan oleh banyak pihak yang mengambil keuntungan. Atas nama “persahabatan”, terkadang aku memberi contekan. Ini tak bisa dibiarkan. Korupsi sekecil apapun itu tidak bisa dibiarkan. Bukankah mecontek adalah bibit – bibit awal korupsi.
Bagaimana bangsa ini mau maju, jika pelajar telah jatuh cinta pada dunia "contek-mencontek". Dengan bangga mencuri hasil kecerdasan orang lain. Dimana peran sekolah dalam menetaskan kasus ini. Pelajar kita telah kehilangan arah. Parahnya lagi, tak ada contoh sosok yang baik di depan matanya. Andai saja, aku bisa menjadi teladan. Kusadari, sebelum merubah orang lain aku harus instropeksi diri. Aku pun membuat komitmen antara diriku dan Tuhan untuk tidak mencontek. Kiranya, Sang Pencipta menguatkan hati ini untuk berjalan selaras dengan kebenaran. Berhenti mengikuti arus sesat “contek – mencontek”.  Perlahan tapi pasti, aku pasti bisa. Kucoba, serahkan semua pada Sang Kuasa. Aku percaya, Ia akan menolong umatNya bangkit dari dosa. Awalnya terasa berat. Godaan dan rintangan silih berganti. Namun semua akan menjadi mudah ketika aku bersedia melalui jalan itu.
Tatkala, aku menulis ini. Tiba – tiba teringat pengalaman Ujian Nasional (UN) 3 tahun yang lalu. Tepatnya, ketika diri ini kelas 3 SMP (Sekolah Menengah Pertama). Bocoran jawaban UN di depan mata. Sempat terpikir, untuk menerimanya. Namun, tidak jadi. Aku telah belajar dan berdoa untuk menghadapi ujian itu. Jika aku menerima bocoran itu, sama saja aku menjual harga diriku dengan sekotak kebahagian semu. Aku juga mengingkari Kebesaran Tuhan dan mempermainkan-Nya. Buat apa kita berdoa sebelum UN, jika pada kenyataanya kita mengandalkan kekuatan “bocoran jawaban”. Berdoa kepada Tuhan, tetapi kok meminta jawaban pada setan. Mencontek, mengandalkan bintang kelas, atau “bocoran jawaban” merupakan ciri pengingkaran kita terhadap Dia. Jika memilih jalan sesat itu, lebih baik tidak usah berdoa. Akhirnya, dengan tegas aku menolak “bocoran jawaban” itu.
Berangkat dari pengalaman itu, kucoba untuk menerapkannya di dunia pendidikan yang kini kujalani. Aku tidak boleh berhenti sampai disini. Aku juga tidak boleh memberi contekan. Bukan…bukannya kau pelit. Aku hanya ingin mengirit dosa. Dengan memberi contekan, berarti aku telah membiarkan orang lain jatuh ke dalam dosa. Hanya orang jahat yang akan membiarkan kejahatan ada di depan matanya. Bukan hanya dia yang berdosa, tetapi aku si pemberi contekan juga ikut berdosa. Tidak memberi contekan lebih rumit daripada tidak mencontek. Karena, ada dua pihak yang harus dijaga. Ada perasaan orang lain yang sulit untuk diberi pengertian. Tidak semua temanku mengerti keputusan ini. Bahkan untuk memberi pengertian pada teman akrab pun sulit. Kuyakinkan diri untuk berkomitmen dengan teman sebangku, namanya Regari Fuji.
“Jika aku bertanya, tolong JANGAN dijawab”
Yah, ketika ulangan tiba kalimat ini terekam dalam memori hatiku.  Semoga saja, ia juga merekamnya dalam memori hati nurani. Maksudnya disini adalah bertanya jawaban atau cara menyelesaikan soal dalam setiap ulangan. Tidak boleh ada diskusi dalam ulangan.
“Maaf, aku tak bisa menjawab pertanyaanmu dalam ulangan”
Kalimat ini berarti aku tidak akan memberikan dia contekan ketika ulangan. Aku berharap ia mengerti. Hasratku ingin berubah dan berbuah menjadi pribadi yang lebih jujur harus tergambar di setiap ucapan dan tindakan.
“Ntar, kalo ulangan umum aku puasa Jen”
Begitulah kata temanku Regari. Ia berusaha menghindari memberi contekan pada teman dengan berpuasa. Biasanya, teman – teman akan mengerti dan menyerah untuk bertanya pada orang yang sedang berpuasa. Menyerah secara terpaksa dengan muka kesal. Apalagi mengingat temanku itu adalah seorang muslim yang taat. Bagaimana dengan diriku. Aku tak bisa memakai senjata “puasa” sepertinya. Karena, cara itu telah kucoba. Namun, belum berhasil. Tak ada yang percaya, aku sedang berpuasa. Pasalnya, aku seorang Nasrani. Menurut mereka, jarang orang Nasrani berpuasa. Padahal, faktanya tidak seperti itu. Menyadari keadaan di sekeliling, aku mencurahkan isi hati  ini pada Tuhan yang Maha Esa. Aku tak bisa mengandalkan puasa untuk tidak memberi contekan. Aku harus memiliki pagar perlindungan yang tak terpatahkan. Dalam setiap keadaan aku harus mennjadi teladan.
Sekarang, aku mungkin dikenal pelit karena tidak memberi contekan. Menutup telinga rapat – rapat ketika ulangan tiba. Mengumpulkan hasil ulangan tanpa memikirkan nasib teman – teman yang belum selesai ulangan. Tetapi, aku percaya suatu waktu mereka pasti mengerti esensi tindakanku hari ini. Perubahan tak boleh ditunda – tunda. Jika hari ini bisa, mengapa harus menunggu esok. Aku harus berusaha memberi pengertian bukan dengan kata – kata. Namun lewat sikap yang menetas dalam realita.
Semoga saja. Kita terjaga dari perbuatan tidak terpuji ini. Berjuanglah kawan, untuk mempertahankan kebenaran. Jika yah, katakan yah. Jika tidak, katakan tidak. Selamat berjuang. Ini semua demi dirimu, demi keluargamu dan demi bangsamu. Bersedialah untuk melakukannya.
Dari sebutir debu yang ingin berubah dan berbuah

Monday, 27 April 2015

PENDENGARAN, PIKIRAN DAN PERBUATAN

Hallo Guys

Sebagai mahasiswa, kita pasti sering bercanda tawa bersama kawan - kawan, apalagi pas jam kosong. Surga banget kan? Tertawa, berbicara sesuka hati, dan menikmati masa - masa muda. Sah - sah aja sih mau bercanda, mau ngelawak sesuka Anda.
Cuman, menurut aku ada yang harus kita perhatikan nih guys....

Check this out...
Ketika bercanda inget gak sih kata - kata yang kita keluarkan. Berdasarkan pengamatanku, aku melihat dan mendengar bahasa - bahasa kasar, lelucon - lelucon yang mengarah pada "pornografi dan pornoaksi" baik dari teman - teman pria maupun wanita.

Menurut aku sih, sebaiknya hal itu dihindari. #Peace
Coba deh, berpikir jauh ke depan.

Apa yang kalian ucapkan, terdengar oleh orang lain, dan bisa jadi itu mempengaruhi pikiran. Selanjutnya, mempengaruhi tindakan.

Ini zamam post modern, segala sesuatu bisa terjadi.
Baiklah kita menghindari resiko dan berusaha selalu berpikir, berkata, dan bertindak hal - hal yang benar.

Kita memang manusia yang tak sempurna, namun tak menjadi pembenaran bagi kita untuk melakukan dosa.

 Tak bermaksud menggurui, sekadar berbagai, mari menjadi pribadi yang lebih baik dan benar.
#Selamatkan generasimu

Thursday, 23 April 2015

Poltek UI atau PNJ?

WE ARE THE YELLOW JACKET, BUT WE ARE NOT UNIVERSITY OF INDONESIA

NOW, WE ARE STATE POLYTECHNIC OF JAKARTA (PNJ).

1. FNGT-UI

2. POLTEK UI

3. PNJ

Sekilas PNJ




Politeknik Negeri Jakarta, sejarahnya bermula dari fakultas non gelar teknologi Universitas Indonesia (FNGT-UI), yang kemudian menjadi Politeknik Universitas Indonesia.

Politeknik Universitas Indonesia didirikan 20 September 1982, sejak 25 Agustus 1998 menjadi mandiri dengan nama Politeknik Negei Jakarta berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor: 207/O/1998.

Ketika didirikan, dibuka 3 jurusan: Jurusan Teknik Mesin, Teknik Sipil dan Teknik Elektro. Menyusul tahun 1986 dibuka jurusan Tata Niaga, yang selanjutnya dikembangkan menjadi Jurusan Akuntansi dan Jurusan Administrasi Niaga. Pada tahun 1990 dibuka Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan, hasil kerjasama antara Politeknik Universitas Indonesia (Politeknik Negeri Jakarta) dengan Pusat Grafika Indonesia. Kemudian bekerjasama dengan PT Trakindo Utama, dibuka Program Studi Alat Berat dibawah Jurusan Teknik Mesin yang dimulai tahun ajaran 2001-2002. Pada tahun 2003 bekerjasama dengan PT Jasa Marga, dibuka Program Diploma IV Jalan Tol.
Dengan demikian sampai saat ini pada program Diploma III memiliki 6 (enam) Jurusan dengan 13 (tiga belas) Program Studi.

Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) merupakan lembaga pendidikan tinggi Diploma III yang didirikan untuk memenuhi kebutuhan SDM profesional di industri, baik industri jasa maupun industri manufaktur. Pembelajaran di PNJ mengaplikasikan Kurikulum Nasional (Kurnas) pendidikan profesional secara bertanggung jawab dengan didukung oleh dosen-dosen profesional. Sistemnya adalah dengan mempertemukan ilmu dan teknologi sesuai komposisi teori 55% dan praktek 45% yang diaplikasikan secara harmonis untuk menghasilkan lulusan yang profesional dan memenuhi kualifikasi industri.


Visi Misi

Dengan kecenderungan lingkungan kearah globalisasi dan persaingan yang semakin terbuka, maka Politeknik Negeri Jakarta menetapkan Visi dan Misi sebagai berikut:

Visi

"Menjadi Politeknik Unggul Berkelas Dunia Pada Tahun 2029"

Misi
  1. Menyelenggarakan Pendidikan Vokasi yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkarakter dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Mengembangkan Penelitian dan mempromosikan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi berkelas dunia guna meningkatkan daya saing bangsa.
  3. Mengembangkan Institusi yang efisien, efektif, dan akuntabel berbasis ICT (Information Communication Technology).

Tujuan
  1. Mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian vokasi sesuai bidangnya dan mampu bersaing di tingkat internasional.
  3. Mengembangkan kerjasama institusional ke tingkat internasional.
  4. Meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia sesuai bidang keahliannya.
  5. Mengupayakan dan mengembangkan hasil-hasil riset terapan guna meningkatkan taraf hidup dan memperkaya khasanah budaya nasional. http://pnj.ac.id/news/index/43/sekilas-pnj.html

Kuliah di Politeknik Negeri Jakarta (PNJ)

Siapa yang tak ingin kuliah di kampus yang katanya terbaik di NKRI? Kampus yang membawa nama Indonesia. Tak munafik, aku juga ingin kuliah disana. Sejak SD, aku telah akrab dengan lingkungan kampus tersebut. Hingga akhirnya, pengambilan keputusan pun terjadi dan herannya aku melupakan kampus tersebut. Jalur undangan masuk perguruan tinggi, aku memilih kampus lain yang berbasis keguruan yaitu Universitas Negeri Jakarta dan Universitas Negeri Semarang. Puji Tuhan, belum diterima. Aku pun mendaftar jalur bidik misi di Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) dan Puji Tuhan diterima.
Bersyukur sudah diterima di Poltek, aku melupakan kampus impian. Tiba - tiba kawan memaksaku untuk mengikuti SBMPTN di kampus impian tersebut. Tak disangka, tanpa belajar aku justru diterima di kampus yang satu wilayah dengan PNJ tersebut. Aku bingung memilih yang mana.
POLTEK atau UI?
Dengan segala pertimbangan, aku memilih POLTEK.
Mungkin, jika kalian di posisiku akan memilih UI. Yah, andai aku tak beasiswa bidik misi
 di POLTEK tentu UI akan menjadi pilihan. Aku teringat perjuangan untuk mendapatkan beasiswa bidik misi, mulai dari seleksi prestasi, wawancara dan menganalisis kondisi keluarga. Aku juga teringat dengan perkataan seorang dosen di POLTEK.
"Dari 90 peserta bidik misi di program studi ini, hanya 2 yang diterima"
Aku tersadar, ketika aku bahagia diterima di poltek 88 orang lainnya mungkin menangis karena kehilangan kesempatan kuliah melalui jalur bidik misi.
Andai beasiswa ini bisa ditukar, tentu aku akan memilih UI. Namun, aku kembali berpikir. Andai aku memilih UI, tentu orangtua akan terbebani dengan biaya. Yah, meskipun nantinya bisa mengajukan beasiwa tetap saja tak seistimewa beasiswa bidik misi.
Sekarang, aku sudah semester 4 di Poltek.
Aku bersyukur ternyata pilihan ini sudah tepat.
Aku bisa lebih mengembangkan skill dan kompetensi yang aku dapatkan semasa SMK. Meski tak lagi jurusan akuntansi, namun masih dalam satu rumpun bisnis dan manajemen yaitu di jurusan administrasi bisnis terapan. Di jurusan adminstasi bisnis terapan, aku mendapatkan serangkaian skill baru yang dapat dipertanggungjawabkan dengan sertifikat kompetensi dan bukti tentunya.
Administrasi Bisnis Terapan PNJ 2013
Sarjana Terapan PNJ 2017
http://bisnis.pnj.ac.id/news/index/224/S1-Terapan-Administrasi-Bisnis.html
hehehehe